Sekaraaaang waktunya aku
menceritakan yang sebenarnya…..
setiap
orang pasti memiliki masa lalu entah itu
berakhir dengan indah , manis , pahit , atau biasa-biasa saja terutama dalam
hal percintaan , termasuk aku.. ya aku , aku memiliki masa lalu yang bisa
dibilang tidak indah karena berakhirnya pun tidak indah , bahkan pahit seperti
kopi hitam yang pahit tanpa diberi gula dan amat sesak di dada. butuh waktu untuk
melupakan , butuh mental kuat untuk dinilai buruk oleh orang lain , sebenarnya
bukan waktuknya lagi aku untuk menceritakan masa laluku yang sudah 2 tahun
berlalu , namun aku mulai merasa muak dengan semua omongan-omongan yang tidak
enak di dengar. Aku selalu sabar dengan celotehan yang mereka lontarkan yaitu “berakhirnya
hubungan aku dengannya disebabkan aku yang SELINGKUH”. Bahkan sampai sekarang aku bahagia dengan yang
lain pun aku masih mendengar celotehan itu. Aku hanya bisa tersenyum dan
rasanya ingin kujatuhkan air mataku kembali bila mengingat peristiwa kala itu
yang membuat ku trauma sampai saat ini. Tapi rasanya tak ada gunanya lagi aku membuang
air mataku hanya untuk dia yang menyakitiku . Peristiwa? Ya peristiwa penuh
perjuangan yang aku tempuh sendiri agar bisa lepas dari dia. Kenapa aku
dibilang yang SELINGKUH? Ini semua sudah keputusanku , ini semua sudah menjadi
resiko ku , ini pun sudah aku pikir matang-matang , aku rela menanggung
semuanya agar aku bisa terlepas dari dia , namun aku memiliki alasan kenapa aku
melakukan itu.. aku terpaksa , aku kehabisan akal , bahkan ini hal terkonyol
yang pernah aku lakukan didalam sejarah percintaanku dan aku selalu bertanya-tanya
apa ini SALAHKU? Kenapa saat aku meminta ingin mengakhiri ia selalu mengelak? Kenapa
setiap aku beri kesempatan memperbaiki sifat kasar yang bukan sekedar kata-kata
melainkan main fisik itu dia tak pernah ingin merubah dan selalu mengulangnya
kembali? Kenapa setiap dia mengucap janji tak pernah ia tepati?
Kasar?
Ya dia cowok yang memiliki emosi tinggi , dia termasuk cowok kasar ketika dia
marah , dia main fisik. Aku sudah muak dengan sifatnya yang berubah kasar 380
derajat sejak 6-9 bulan hubungan berjalan ditambah dia mengajak aku melakukan
hal negative. Semakin hilang rasa yang aku miliki untuknya namun ia tak ingin melepaskan
ku dari genggamannya.
Sejak 9 bulan berjalan , aku menjalani tanpa ada rasa , semuanya menjadi hambar , tak ada lagi benih-benih cinta , tak ada lagi indahnya kerhamonisan , senyum atau kebahagiaan yang aku perlihatkan kepadanya juga teman-temanku , keluargaku , keluarganya itu hanya kepura-puraanku karena memang saat itu tidak ada yang tahu sifat dia yang amat sangat keras dan selalu melakukan kekerasan padaku.
Sejak 9 bulan berjalan , aku menjalani tanpa ada rasa , semuanya menjadi hambar , tak ada lagi benih-benih cinta , tak ada lagi indahnya kerhamonisan , senyum atau kebahagiaan yang aku perlihatkan kepadanya juga teman-temanku , keluargaku , keluarganya itu hanya kepura-puraanku karena memang saat itu tidak ada yang tahu sifat dia yang amat sangat keras dan selalu melakukan kekerasan padaku.
Sakit…amat
sakit hati ini ketika aku melakukan seperti halnya sinetron. Sampai pada
akhirnya aku lelah , lelah dengan semua kebohongan dan kepura-puraanku , dan
dia yang selalu dinilai positif oleh semua orang termasuk keluargaku.
Memasuki hubungan 1 tahun lebih , entahlah aku sudah lupa tepatnya kapan , aku menjalani Praktek kerja industri di salah satu perusahaan besar , disana aku menemukan banyak teman baru walaupun tidak seumuran , namun mereka berjiwa muda. Aku merasa aku menemukan jati diriku yang sebenarnya disana , gimana tidak? Aku selalu mendapatkan kata-kata motivasi dari pembimbing ku disana terutama dalam hal percintaan dan pendidikan dan Disana pun aku menemukan orang yang selalu memberiku semangat sehingga aku merasa nyaman tanpa cowok itu ketahui sebenarnya aku memang lagi butuh banyak semangat karena sedang terpuruk , dan kebetulan dia mirip almarhum sahabat ku yang sudah meninggal.
Hari demi hari , seketika aku merasa aku lupa dengan semua masalahku , aku mulai agak sedikit bisa move on dari rumitnya hubungan ku , bahkan aku lupa bahwa aku sedang berstatus taken ( no single). Aku dengan cowok itu pun mulai dekat , aku mulai memberanikan diri untuk sedikit menceritakan hubungan ku. Sejak saat itu aku mulai sedikit lost kontak sama dia (mantanku) , mulai menghilang , dan mulai berani mengambil keputusan kalo aku akan bilang mempunyai kekasih baru. Padahal disitu aku dengan cowok itu belum ada hubungan apa-apa , hanya sekedar kakak adik saja dan aku sama dia (mantanku) masih berstatus pacaran. intinya aku Cuma pura-pura agar aku lepas dari dia , lepas dari kekerasan yang selama itu aku dapati , dan kata-kata SELINGKUH itu hanya KONOTASI . sampai akhirnya dia melepasku , membiarkan aku pergi dan aku siap menerima aku dinilai buruk oleh orang lain karena aku selingkuh walaupun kenyataannya TIDAK. Memang setelah seminggu aku putus dari dia (mantanku) aku kembali membuka hati untuk orang lain dan orang lain itu adalah cowok yang selama itu memberi semangat hingga pada akhirnya aku terlepas , sebenernya aku tidak ingin terlalu cepat memberikan hati ku kepadanya , aku takut dia merasa hanya jadi pelampiasanku , aku takut menyakiti hatinya ketika aku masih belum bisa move on dari masa laluku , namun takdir berkata lain , keadaan pun ikut berkata lain , ternyata dia adalah orang yang aku cari selama ini , menganyomi ku , membuat aku dewasa , membuat aku mengerti arti cinta & kehidupan sesungguhnya.
Ini alasanku kenapa aku memilih berpura-pura bilang ke semua orang kalo aku selingkuh? dan kenapa aku tidak menceritakan yang sebenernya ke orang terdekatku saat itu ? Aku tidak menceritakan itu semua karena aku tidak ingin dia(mantanku) itu dibenci oleh orang lain dengan sikapnya yang seperti itu. Dan aku lebih memilih aku yang dibenci oleh orang lain. Aku pun berharap agar apa yang dia(mantanku) lakukan padaku tidak diulangin kembali pada wanita lain? Cukup aku yang merasakannya.





3 komentar:
cooo cweeeet...:(
pernah ngalamin juga ya mas ari?
Ooo...jadi itu kisah lengkapnya....
pantesan sering kaburrr...
Posting Komentar